Sentuhan Ibu untuk Warga: Pemkot Bandar Lampung Siapkan Modal Usaha dan Kemandirian bagi PMKS

BANDAR LAMPUNG — Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung di bawah komando Wali Kota Eva Dwiana terus membuktikan bahwa penataan kota tidak harus mengesampingkan sisi kemanusiaan. Melalui Dinas Sosial (Dinsos), pemerintah kini mematangkan program revolusioner berupa pemberian bantuan modal usaha bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), sebagai solusi konkret untuk mengangkat harkat martabat warga binaan.

Langkah ini menegaskan bahwa Pemkot Bandar Lampung tidak sekadar melakukan penertiban, namun hadir memberikan “jalan keluar” yang nyata agar warga yang sebelumnya berada di jalanan, seperti “manusia silver” dan anak jalanan, dapat bertransformasi menjadi wirausahawan mandiri.

Kepala Dinas Sosial Kota Bandar Lampung, Aklim Sahadi, menjelaskan bahwa pemberian modal usaha ini merupakan bagian dari visi besar Wali Kota untuk memutus rantai kemiskinan dan ketergantungan pada jalanan. Saat ini, pendataan dan asesmen mendalam tengah dilakukan untuk memastikan bantuan tepat sasaran.

Sebagai contoh nyata, dua warga yang sempat viral, berinisial P dan A, kini dalam binaan intensif untuk segera membuka usaha mandiri. “Putri berencana membuka usaha ayam geprek, sementara Anisa ingin berjualan cireng. Kami sedang memproses administrasinya dan insya Allah setelah Lebaran realisasi modal usaha ini mulai berjalan,” ungkap Aklim dengan optimis, kemarin

Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana, yang akrab disapa Bunda Eva, menekankan bahwa seluruh kebijakan ini didasari oleh rasa kasih sayang terhadap warga. Melalui akun media sosial resminya, beliau menegaskan bahwa rehabilitasi sosial bukan bentuk hukuman, melainkan upaya menyelamatkan masa depan warga.
“Pemerintah kota berkomitmen mengedepankan pendekatan humanis. Rehabilitasi sosial ini adalah upaya membuka jalan perubahan menuju kehidupan yang lebih aman dan bermartabat,” tegas Bunda Eva.

Sinergi ini diperkuat oleh Satpol PP Bandar Lampung yang bertindak sebagai garda terdepan dalam menjaga ketertiban umum. Kasat Pol PP, Ahmad Nurizki Erwandi, memastikan bahwa penertiban dilakukan secara rutin demi keselamatan warga itu sendiri, termasuk penanganan cepat bagi ODGJ untuk mendapatkan perawatan layak di panti rehabilitasi.

Untuk mendukung program kemandirian ini, Pemkot Bandar Lampung mengajak seluruh masyarakat untuk turut menyukseskan pembinaan dengan tidak memberikan uang di jalanan. Hal ini dilakukan agar warga binaan lebih termotivasi mengikuti pelatihan keterampilan profesional—seperti mengelas dan perbengkelan—yang disediakan oleh pemerintah.

Pemberian modal, pelatihan keterampilan, dan dukungan masyarakat, Pemkot Bandar Lampung optimistis wajah kota akan semakin tertata, sementara warganya semakin sejahtera dan mandiri secara ekonomi.

Menggunakan kata-kata seperti “Sentuhan Ibu”, “Program Revolusioner”, “Harkat Martabat”, dan “Visi Besar”.

Personifikasi Pemimpin: Menampilkan Wali Kota Eva Dwiana sebagai sosok “Ibu” atau “Bunda” yang peduli dan penuh kasih sayang (humanis).

Solusi Jangka Panjang: Membingkai pemberian modal usaha sebagai bukti bahwa pemerintah tidak hanya “mengusir” orang dari jalan, tapi memberikan modal untuk hidup lebih baik.
Sinergi Antar-Lembaga: Menunjukkan bahwa Dinsos dan Satpol PP bekerja secara harmonis demi kepentingan warga.(nda)