Tradisi Cinta Abah Ismail Berlanjut: Isak Haru dan Senyum 250 Santri Yatim Riyadhus Sholihin Terima THR & Baju Lebaran
BANDAR LAMPUNG – Suasana syahdu menyelimuti Masjid Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Dhuafa Tahfidzul Qur’an Riyadhus Sholihin, Bandar Lampung. Di tengah lantunan selawat, sebanyak 250 santri berbaris rapi dengan wajah berbinar. Meski sang pendiri kharismatik, Almarhum Abah Ismail Zulkarnain, telah tiada, hangatnya kasih sayang di pondok ini tak pernah luntur.

Satu per satu santri maju dengan malu-malu menerima amplop Tunjangan Hari Raya (THR) dan paket baju lebaran baru dari pimpinan pondok, Umi Hj. Fatmah Sungkar. Bagi anak-anak yang sebagian besar sudah tak memiliki orang tua ini, momen tersebut bukan sekadar menerima materi, melainkan pembuktian bahwa mereka tidak sendirian menyambut hari kemenangan.
“Kami ingin santri-santri kami merasakan Lebaran yang sama dengan anak-anak lain. Tidak boleh ada yang merasa minder hanya karena tidak punya orang tua. Mereka harus bahagia,” ujar Umi Fatmah dengan nada haru.
Menjaga Warisan Kebaikan
Umi Fatmah menegaskan komitmennya untuk terus melestarikan tradisi mulia yang dirintis Almarhum Abah Ismail. Selain pendidikan, tempat tinggal, dan biaya hidup gratis, pesantren tetap memberikan apresiasi khusus bagi para penghafal Al-Qur’an. Tahun ini, santri yang berhasil khatam Al-Qur’an sebanyak tiga kali selama Ramadan mendapatkan penghargaan uang tunai tambahan.
“Alhamdulillah, tahun ini kami masih bisa memuliakan anak-anak yatim dan dhuafa. Ini adalah amanah untuk terus melanjutkan apa yang biasa Abah lakukan setiap menjelang Idulfitri,” tambahnya.
Pembagian THR dan baju baru ini dilakukan tepat sebelum para santri dilepas untuk mudik ke kampung halaman masing-masing. Dengan tas berisi perlengkapan salat baru dan amplop di tangan, tawa kecil anak-anak itu menjadi pemandangan indah yang menutup rangkaian Ramadan di Riyadhus Sholihin.
Kisah dari sudut Kota Bandar Lampung ini menjadi pengingat kuat bahwa kebahagiaan sejati Lebaran justru hadir saat kita mampu menyeka air mata mereka yang membutuhkan dan menggantinya dengan senyuman.(rls)