Bibit Unggul Jadi Jurus Komisi II DPRD: Produksi Singkong Lampung Bidik 50 Ton Per Hektare

Bandar Lampung – Komisi II DPRD Lampung dorong percepatan pengembangan bibit unggul singkong. Dongkrak produktivitas dan jaga pasokan bahan baku 78 pabrik tepung tapioka di Lampung.

Anggota Komisi II DPRD Lampung Mikdar Ilyas bilang, pembahasan ini sudah jalan bareng Pemprov, BRIN, Unila, asosiasi petani, dan industri. Ini tindak lanjut dari rekomendasi Pansus Singkong DPRD.

“Kebutuhan pabrik tapioka sangat besar. Makanya bibit unggul harus segera diwujudkan,” tegasnya, Kamis 16/7.

Dengan bibit unggul, produktivitas ditarget naik signifikan. Dari lahan yang makin menyempit karena petani beralih ke jagung, padi, dan sawit, diharapkan hasil panen justru bisa tembus 40 sampai 50 ton per hektare.

“Kalau luas lahan berkurang tapi hasil naik, industri tetap aman pasokannya,” ujarnya.

Keunggulannya bukan cuma di hasil. Kadar pati singkong juga ditarget naik dari 20% menjadi 24-25%. Dampaknya langsung ke efisiensi pabrik.
Saat ini 5 kg singkong baru jadi 1 kg tapioka. Kalau kadar patinya 25%, cukup 4 kg. Artinya biaya produksi turun dan harga di petani berpotensi lebih baik.

Soal harga, Pemprov sudah tetapkan acuan Rp1.350 per kg lewat Pergub. Tapi di lapangan harga saat ini justru lebih tinggi, ada di kisaran Rp2.100 sampai Rp2.200 per kg.

“Yang penting jangan sampai di bawah acuan. Sekarang alhamdulillah masih di atas,” kata Mikdar.

Untuk bioetanol belum jadi prioritas. Fokus semua pihak masih ke bibit unggul dulu. PT Bumi Waras sudah komitmen dukung pendanaan dan diharapkan perusahaan lain ikut.

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan Lampung, produksi singkong 2023 mencapai 8,15 juta ton. Dengan potensi lahan 300 ribu hingga 500 ribu hektare, jika pakai bibit unggul produksi bisa terdongkrak hingga 12-15 juta ton per tahun.

“Selama harga bagus, petani pasti nanam. Kami optimis kebutuhan industri ke depan tetap terpenuhi,” tutupnya.