image_pdfimage_print

BANDAR LAMPUNG – Di tengah ancaman pemangkasan Dana Transfer ke Daerah (TKD) tahun depan, para pemimpin kota se-Indonesia berkumpul di Bandar Lampung untuk merumuskan “benteng” pertahanan ekonomi daerah. Forum APEKSI Outlook 2025 yang digelar di Hotel Novotel, Sabtu (20/12/2025), resmi menjadi ruang konsolidasi panas bagi 56 walikota dalam memperkuat kemandirian fiskal menjelang tahun 2026.

 

Wakil Ketua Dewan Pengurus APEKSI Nasional, Muhammad Tauhid Suleiman, menegaskan bahwa pertemuan ini adalah momen refleksi krusial atas dinamika berat yang dihadapi kota-kota di Indonesia sepanjang tahun 2025.

 

“APEKSI Outlook 2025 bukan sekadar agenda tahunan. Ini adalah ruang refleksi atas persoalan kota dari Sabang sampai Merauke. Dinamika fiskal di awal 2025, terutama efisiensi anggaran pusat, menjadi tantangan yang memaksa kita semua untuk lebih inovatif agar pelayanan publik tidak lumpuh,” tegas Muhammad Tauhid dalam forum tersebut.

 

 

Meskipun tidak melahirkan perjanjian formal, forum ini menjadi ajang “pertukaran ilmu” yang sangat berharga. Muhammad Tauhid secara khusus memuji Kota Bandar Lampung yang dinilai berhasil melakukan lompatan besar dalam tata kelola perkotaan layaknya kota metropolitan di Jawa.

 

“Bandar Lampung berkembang pesat. Kemajuan ini bisa menjadi pelajaran penting bagi kota-kota lain. Bagaimana kebijakan otonomi daerah dimanfaatkan secara progresif untuk pembangunan mandiri,” tambahnya.

 

Menurutnya, setiap kota memiliki karakteristik persoalan yang berbeda, sehingga forum ini menjadi penting sebagai ruang berbagi pengalaman, saling menguatkan, serta menyampaikan praktik terbaik dari berbagai daerah.

 

Muhammad Tauhid juga menyinggung tantangan kebijakan fiskal yang dihadapi pemerintah kota pada awal 2025, khususnya terkait efisiensi anggaran dan pengurangan Dana Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat.

 

“Situasi ini menjadi tantangan tersendiri. Namun justru mendorong pemerintah kota untuk berinovasi agar roda pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan publik tetap berjalan,” katanya.

 

Ia menilai, meski tidak menghasilkan kesepakatan formal, APEKSI Outlook memiliki nilai strategis karena membuka ruang pertukaran gagasan dan pembelajaran antarkota secara setara.

 

“Tidak ada keputusan bersama atau perjanjian formal. Yang ada adalah pertukaran informasi dan pengalaman atas keberhasilan masing-masing daerah,” ujarnya.

 

Dalam forum tersebut, Kota dinilai sebagai salah satu contoh kota yang mampu memanfaatkan otonomi daerah untuk merancang kebijakan pembangunan secara mandiri dan progresif.

 

Ia menambahkan, praktik pembangunan yang berhasil di satu daerah dapat direplikasi di daerah lain sesuai dengan konteks lokal masing-masing.

 

“Setiap kota punya tantangan berbeda, tetapi pengalaman Bandar Lampung menunjukkan bahwa dengan perspektif yang jelas dan kebijakan yang terarah, kemajuan daerah bisa dicapai,” tandasnya. (Nda)