
Bandar Lampung – Di balik sosoknya sebagai politisi senior, tersimpan kisah inspiratif dari Yuhadi, Ketua DPD Partai Golkar Kota Bandar Lampung yang juga telah menjabat sebagai anggota DPRD selama tiga periode, (10/3).
Dalam sebuah kesempatan, Yuhadi mengungkapkan bahwa di sela aktivitasnya sebagai wakil rakyat, ia juga aktif mengisi kegiatan keagamaan. Ia mengaku rutin memberikan tausyiah singkat setiap kali melaksanakan salat Dzuhur berjamaah.
“Saya memang setiap salat Dzuhur di sini biasanya memberikan sedikit tausyiah. Dan insyaallah jika tidak ada uzur, selama Ramadan saya juga menjadi imam tarawih di masjid depan rumah,” ujarnya.
Tak banyak yang mengetahui bahwa politisi yang telah memimpin Partai Golkar di Kota Bandar Lampung selama sekitar 10 tahun ini ternyata merupakan alumni pondok pesantren. Ia pernah menimba ilmu di sebuah pondok pesantren sederhana di Pandeglang selama hampir delapan tahun.
“Saya mondok di Pandeglang kurang lebih 7 tahun 8 bulan, dari tahun 1990 sampai 1996. Di sana saya juga sekolah Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah,” jelasnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, Yuhadi melanjutkan kuliah hingga meraih gelar sarjana di UIN, kemudian melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Lampung (Unila).
Ia juga mengenang masa kecilnya yang penuh keterbatasan. Yuhadi lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya adalah seorang guru ngaji kampung di wilayah Kali Awi, sementara sang ibu mencari nafkah dengan berjualan pecel hingga akhir hayatnya.
“Saya terlahir dalam keadaan miskin. Orang tua saya guru ngaji kampung, dan ibu saya sampai meninggal dunia masih berjualan pecel. Saya tidak pernah membayangkan akan menjadi anggota DPR. Bermimpi saja tidak berani karena saya miskin, tapi takdir berkata lain,” ungkapnya.
Meski berasal dari keluarga sederhana, Yuhadi menegaskan bahwa semangat hidup adalah kunci untuk mengubah keadaan.
“Kalau tidak punya uang bisa dicari, tapi kalau tidak punya semangat lebih baik mati. Untuk apa hidup kalau hanya leha-leha dan santai-santai,” katanya.
Ia juga mengutip pesan dari Sayyidina Ali yang menurutnya sangat relevan sebagai motivasi hidup.
“Kata Sayyidina Ali, terlahir dalam keadaan miskin itu takdir, tetapi meninggal dalam keadaan miskin itu kebodohan,” ujarnya.
Menurut Yuhadi, Islam tidak melarang umatnya untuk menjadi kaya. Justru dengan kekayaan, seseorang dapat lebih banyak berbuat kebaikan seperti bersedekah, menunaikan ibadah haji, serta membantu sesama.
“Islam mengajarkan kita untuk menjadi kaya, karena dengan kekayaan kita bisa bersedekah, berhaji, dan menolong orang lain. Karena kemiskinan itu dekat dengan kekufuran,” pungkasnya.








