
BANDAR LAMPUNG – Di tengah bayang-bayang kenaikan harga nasional, Provinsi Lampung justru mengukir prestasi gemilang. Berdasarkan data terbaru Januari 2026, Lampung resmi mencatatkan angka inflasi hanya 1,9 persen, menjadikannya yang terendah di seluruh Pulau Sumatera sekaligus masuk dalam jajaran 10 besar provinsi paling stabil secara nasional.
Capaian impresif ini terungkap dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang dipimpin langsung oleh Mendagri Tito Karnavian, Senin (9/2/2026).
Lawan Arus Kenaikan Nasional
Saat inflasi nasional merangkak naik ke angka 3,55 persen—dipicu oleh penghapusan subsidi listrik dan melambungnya harga emas perhiasan—Lampung justru menunjukkan taringnya dalam menjaga “isi kantong” warga tetap aman.
Mendagri Tito Karnavian dalam rapat tersebut menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan harga agar konsumen tidak menjerit, namun produsen (petani dan pengusaha) tetap bisa bernapas.
Cabai dan Ayam Jadi “Pahlawan” Deflasi
Apa rahasia di balik stabilnya harga di Lampung? Memasuki minggu pertama Februari 2026, Indeks Perubahan Harga (IPH) di Bumi Ruwa Jurai terpantau turun sebesar -0,08 persen.
Penurunan harga ini didorong oleh melimpahnya pasokan dan lancarnya distribusi komoditas “primadona” dapur, seperti:
Cabai Merah
Daging Ayam Ras
Telur Ayam Ras
Ketiga komoditas ini menjadi penyumbang utama turunnya tekanan harga di pasar-pasar tradisional Lampung.
Fenomena Listrik dan Optimisme Maret
Pihak BPS menjelaskan bahwa lonjakan inflasi di beberapa daerah lain sebenarnya dipicu oleh Low Base Effect, yakni penyesuaian tarif listrik setelah subsidi 50% bagi pelanggan 2.200 VA ke bawah berakhir. Namun, kondisi ini diprediksi akan kembali normal pada Maret dan April mendatang.
Bagi Lampung, angka 1,9 persen ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti sinergi antara pemerintah dan stakeholder dalam memastikan bahan pokok tidak hanya tersedia, tapi juga terjangkau.









