
BANDAR LAMPUNG – Kesabaran warga Perumdam 4 Sukarame, khususnya di Jalan Karimun Jawa Gang Wisma 1 dan 2, tampaknya sudah mencapai batasnya. Menghadapi banjir yang terus berulang tanpa solusi konkret, ratusan warga dari tiga RT (RT 02, RT 16, dan RT 23) berkumpul menggelar musyawarah besar pada Minggu (15/3/2026).
Keresahan warga bukan tanpa alasan. Ketua RT 23, M. Zen, mengungkapkan bahwa wilayah mereka sebenarnya sudah sering dikunjungi pejabat, termasuk Kepala Dinas PU, untuk melakukan survei. Namun, hingga saat ini, hasil survei tersebut hanya menjadi catatan di atas kertas tanpa ada pembangunan fisik di lapangan.
“Kami sudah melapor ke kelurahan, bahkan sudah didatangi Dinas PU. Tapi sampai detik ini, belum ada realisasi apa pun. Kami butuh aksi nyata, bukan sekadar survei,” tegas M. Zen di tengah forum warga.
Ketua RT 02, Nasri, menjelaskan bahwa akar masalahnya adalah sistem drainase yang sudah tidak layak. Saluran air yang sempit tak lagi sanggup menampung debit air, apalagi wilayah mereka berada di dataran rendah yang menjadi “penampung” air kiriman dari wilayah yang lebih tinggi.
“Saluran airnya terlalu kecil. Begitu hujan deras, air langsung meluap ke rumah-rumah warga,” kata Nasri.
Tak mau terus-terusan jadi korban, warga menyepakati langkah berani. Selain akan melakukan kerja bakti massal untuk membersihkan saluran dan membuat pembatas jalan secara swadaya, warga juga tengah menyusun petisi resmi.
Ketua RT 16, Bambang, menegaskan bahwa petisi tersebut akan ditandatangani oleh seluruh warga terdampak dan diserahkan langsung kepada Pemerintah Kota Bandar Lampung serta dinas terkait sebagai bentuk desakan keras.
“Kami akan buat petisi. Ini adalah suara kolektif kami agar pemerintah segera mengambil langkah nyata. Kami tidak ingin lagi dihantui rasa was-was setiap kali awan mendung datang,” pungkas Bambang.
Warga berharap, dengan adanya gerakan terpadu ini, Pemerintah Kota Bandar Lampung tidak lagi menutup mata terhadap penderitaan warga di Perumdam 4 Sukarame.(sup)








