image_pdfimage_print

Bandar Lampung – Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman menghadiri kegiatan Stadium General dan Pelantikan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Lampung Periode 2026 yang digelar di Gedung Serba Guna (GSG) Unila. Acara tersebut mengusung tema “Mahasiswa Sebagai Katalisator Perubahan Serta Pusat Gerak Menuju Industri 5.0 dan Indonesia Emas 2045”. (06-04-2026).

Dalam penyampaiannya, Habiburokhman menegaskan bahwa dirinya lebih memilih untuk mendengar aspirasi mahasiswa daripada memberikan ceramah panjang. Ia bahkan menyebut bahwa anggota DPR seharusnya diundang untuk mendengar, bukan sekadar berbicara di hadapan mahasiswa.

“Saya lebih senang mendengar apa aspirasi adik-adik mahasiswa. Kita ini tidak dalam kapasitas untuk menggurui atau memberikan pencerahan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan pandangannya terkait materi motivasi yang sering disampaikan dalam forum-forum formal. Menurutnya, tidak semua motivasi dapat diterapkan secara langsung karena kondisi setiap individu berbeda.

Lebih jauh, Habiburrahman mengajak mahasiswa untuk merefleksikan kembali makna gerakan mahasiswa. Ia menilai terdapat sejumlah mitos yang selama ini melekat, seperti anggapan bahwa mahasiswa adalah elit intelektual, harus selalu berseberangan dengan kekuasaan, serta hanya berperan selama masa studi.

Menurutnya, pola pikir tersebut justru dapat membatasi peran mahasiswa dalam jangka panjang. Ia menegaskan bahwa perubahan tidak bisa dicapai secara instan dalam waktu singkat.

“Tidak mungkin perubahan besar terjadi hanya dalam dua atau tiga tahun. Perubahan adalah proses panjang yang berlangsung puluhan tahun,” katanya.

Habiburrahman juga mendorong mahasiswa untuk tidak terjebak dalam eksklusivitas sebagai kelompok elit, melainkan harus terlibat langsung dengan masyarakat. Ia menilai gerakan mahasiswa perlu bertransformasi menjadi gerakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis dan sistematis yang diperoleh selama masa perkuliahan. Menurutnya, kemampuan ini menjadi bekal utama dalam menghadapi tantangan di kehidupan nyata, terutama setelah mahasiswa lulus dan memiliki tanggung jawab yang lebih besar.

“Ujian sesungguhnya bukan di kampus, tetapi ketika kita sudah berada di tengah masyarakat dan tetap konsisten berpikir kritis,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga membuka ruang komunikasi seluas-luasnya dengan mahasiswa. Habiburrahman bahkan mempersilakan mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi, usulan kebijakan, hingga keluhan secara langsung kepadanya.

Menutup sambutannya, ia mengajak mahasiswa untuk tidak hanya aktif berdiskusi, tetapi juga mengambil langkah konkret dalam melakukan perubahan.

“Daripada hanya berdiskusi tanpa tindakan, lebih baik kita mulai melakukan sesuatu yang nyata,” pungkasnya.