
BANDAR LAMPUNG – Bagi ratusan santri di Pondok Pesantren Ryadhus Sholihin, sosok Hj. Fatmah Sungkar bukan sekadar pengasuh, melainkan ibu yang memberikan dekapan hangat bak anak kandung sendiri. Sepeninggal almarhum sang suami, Hi. Ismail Zulkarnain, Umi Fatmah tetap teguh berdiri menjadi tumpuan bagi anak-anak yatim piatu di sana.
Kedekatan erat yang ia jalin merupakan warisan cinta dan didikan sang suami yang semasa hidupnya selalu menempatkan anak yatim di baris terdepan.
Bekal Akhirat di Setiap Senyum Anak Yatim
Bagi Umi Fatmah, memuliakan anak yatim bukan sekadar rutinitas sosial, melainkan sebuah prinsip hidup yang mendalam. Ia percaya bahwa kebahagiaan yang ia berikan kepada anak-anak tersebut adalah investasi spiritual yang tak ternilai.
“Memuliakan anak yatim bukan tentang hari ini, tapi tentang bekal kita di akhirat nanti,” ungkap Umi Fatmah dengan lembut.
Ia pun meyakini bahwa setiap gerak-gerik tulus dalam membahagiakan mereka akan berbuah keberkahan. “Kita bahagiakan mereka, insyaallah setiap senyum mereka adalah doa diam untuk kita semua,” paparnya.
Menjaga keberlangsungan Pondok Pesantren Ryadhus Sholihin dan memastikan anak-anak yatim mendapatkan tempat yang layak adalah cara Umi Fatmah meluapkan rasa rindunya kepada sang suami. Baginya, meneruskan perjuangan almarhum dalam mendidik dan mengasuh adalah bukti cinta yang paling nyata.
Kini, Ryadhus Sholihin terus menjadi tempat bagi anak-anak yatim piatu di Bandar Lampung hingga luar lampung,di mana mereka tidak hanya mendapatkan pendidikan,tetapi juga limpahan kasih sayang dari sosok “Ibu” yang tak kenal lelah berjuang demi masa depan mereka. (Nda)








