
BANDAR LAMPUNG – Di sebuah sudut kota Bandar Lampung, seorang bocah laki-laki berusia 9 tahun duduk mematung. Matanya menatap kosong ke arah layar ponsel, jemarinya lincah menari di atas layar, namun jiwanya seolah tak ada di sana. Saat diajak bicara, ia hanya menunduk. Diberi lelucon, ia tak tertawa. Ditakut-takuti, ia tak bereaksi.
“Benar-benar dingin, kayak robot,” ungkap Prisnal, Kepala UPT PPA Bandar Lampung, menggambarkan kondisi memprihatinkan sang bocah yang kini mengalami adiksi parah terhadap game online Roblox.
Kasus yang mencuat di awal tahun 2026 ini menjadi tamparan keras bagi para orang tua. Di balik kecanduan gadget yang ekstrem ini, terungkap sebuah fakta pilu tentang “kekosongan” di dalam rumah.
Lahir dari Pernikahan Dini: Orang tuanya menikah saat masih SMA tanpa restu.
Kehilangan Sosok Ayah: Sang ayah diusir kakeknya sejak ia bayi dan menghilang.
Ibu yang Berjuang Sendiri: Sang ibu terpaksa bekerja di luar kota demi menyambung hidup.
Pola Asuh “Biar Diam”: Diasuh oleh kakek dan neneknya, ia diberi kebebasan bermain gadget tanpa batas agar tidak rewel.
Kepala Dinas PPPA Kota Bandar Lampung, Maryamah, menegaskan bahwa gadget hanyalah pelarian. “Anak-anak mencari kebahagiaan di dunia maya karena jauh dari kasih sayang dan kenyamanan di dunia nyata,” ujarnya.
Bukan sekadar hobi, kecanduan ini telah merusak pola hidup sehat sang bocah. Tim UPT PPA menemukan rentetan perilaku yang mengkhawatirkan:
Gangguan Tidur: Selalu begadang hingga tengah malam dan enggan tidur siang.
Akademik Terpuruk: Sering tidur di kelas dan tugas sekolah tak pernah tuntas dengan alasan “lelah”.
Kesehatan Fisik: Menolak makan sayur dan hanya mau mengonsumsi ayam geprek.
Meski keterikatannya pada ponsel masih sangat kuat—ia akan langsung menyambar kembali ponselnya jika dipinjam—masih ada secercah harapan. Saat dibawa ke pantai, sang anak sempat menunjukkan ketertarikan pada aktivitas fisik seperti membangun istana pasir.
Saat ini, pihak UPT PPA telah menyerahkan kasus ini kepada psikolog untuk menjalani terapi intensif. Pemerintah Kota Bandar Lampung mengimbau keras agar orang tua tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga secara emosional.
“Kita tidak bisa menghilangkan teknologi karena ini zamannya, tapi kita bisa memastikan anak-anak tidak kehilangan kemanusiaannya.” tandasnya.(nda)








